Sejarah Desa BANJARAN
SEJARAH DESA BANJARAN
Sebelum jaman kemerdekaan bahkan diperkirakan jaman kerajaan keberadaan Desa Banjaran sudah ada. Ini dibuktikan dengan adanya prasasti sejarah yang pernah ada di desa Banjaran . Prasasti tersebut berupa batu bertulis yang menggunakan huruf palawa kemungkinan bahasa Sansekerta. Konon Desa Banjaran adalah merupakan hadiah hadiah atau ganjaran dari penguasa Kerajaan yang ada di tanah Jawa kepada seseorang yng sangat berjasa kepada kerajaan. Hadiah atau ganjaran tersebut berupa tanah untuk dijadikan Karang Pradesan atau perkampungan dan juga untuk pertanian . Dulu bukti sejarah yang berupa prasasti tersebut orang-orang menyebut watu sembujo atau batu yang ada di bawah pohon sembujo (pohon kamboja). Dan pada tahun 1985 batu tersebut dibawa oleh dinas Purbakala untuk diteliti dan di simpan di museum purbakala Trowulan.
Desa banjaran terkenal dengan tanahnya yang subur. Desa yang makmur gemah ripah loh jinawi. Kerena kesuburannya tanaman padi yang ditanam di Desa Banjaran menjadi pusat perhatian oleh semua orang yang melintas di sepanjang jalan Banjaran . Jalan Banjaran membentang dari barat ketimur dari Desa Karangandong sampai Desa Tanjungan. Di sebelah selatan jalan dari barat ke timur itulah bentangan sawah yang menjadi pusat perhatian. Dengan banyaknya bibit padi yang akan di tanam disawah sepanjang jalan tersebut kelihatan tertata rapi. Karena sawah sudah siap untuk ditanami dan bibit padi yang disiapkan terlihat berbanjar-banjar.Tempat tersebut orang-orang menyebut tempat mbanjari benih padi. Atau menata padi dengan berbanjar-banjar. Ditempat itulah akhirnya dikenal dengan sebutan BANJARAN. Yang artinya tempat mbanjari benih padi.
Desa Banjaran terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Banjaran dan Dusun Banjarsari. Dusun Banjaran ada di sebelah barat sedangkan Dusun Banjarsari disebelah timur. Sejarah Dusun Banjar-sari menurut cerita rakyat, didusun tersebut di huni seseorang yang disegani masyarakat. Orang-orang menyebut mbah Sari akhirnya kampung tersebut dikenal dengan sebutan BANJARSARI.
Silsilah kepemimpinan desa Banjaran mempunyai cerita yang cukup melegenda. Yang masih diingat masyarakat diperkirakan abat 18 atau tahun 1800 masehi. Dimasa itu lurah yang pertama adalah BIRONO kemudian lurah berikutnya atau yang kedua adalah GIPAH . Kemudian lurah ke tiga yakni IBRAHIM lurah Ibrahim – masa kepemimpinannya diperkirakan awal tahun 1900.
Lurah Ibrahim inilah dikenang mayaraka t cukup melegenda . Karena dimasa kepemimpinan lurah Ibrahim inilah masyarakat mulai dekat dengan agama karena kealimannya. Dibawah kepemimpinan lurah Ibrahim lah agama Islam mulai berkembang.Agama Islam mulai bersinar mulai di bangun Langgar-langgar atau mushollah. Lurah Ibrahim terkenal cukup agamis dan alim.Karena kealimannya tersebut lurah Ibrahim mempunyai seekor kuda yang istimewa.Kuda ter-sebut biasa digunakan untuk kendaraan sehari-hari maupun untuk keperluan ke Kawedanan ketika ada pertemuan .Keistimewaan kuda tersebut ketika ada sesuatu yang membahayakan maka kuda tersebut memberikan isyarat dengan meringkih atau menghentak hentakkan kakinya di kandang . Kemudian sang pemilik ( lurah Ibrahim) mendatangi kuda tersebut untuk minta diantar ke tempat dimana ada bahaya. Maka oleh masyarakat ketika pak lurah Ibrahim berkeliling desa dengan kuda tersebut maka masyarakat meningkatkan kewaspadaannya . Ini terjadi biasanya terjadi baik kejahatan oleh orang jahat maupun akan terjadi wabah penyakit. Orang-orang biasa menyebut begebluk. Hingga saat ini walaupun kuda tersebut sudah tidak ada lagi namun masyarakat masih sering mendengar kuda yang lari sambil merintih. Bahkan juga ada yang pernah menjumpai kemudian menghilang. Demikian cerita singkat tentang sejarah dan dan cerita rakyat desa Banjaran.
Sejarah kepemimpinan Desa Banjaran yang dapat di catat adalah sebagai berikut :
|
No. |
NAMA KEPALA DESA |
DARI TAHUN |
SAMPAI TAHUN |
|
1. |
BIRONO |
± 1800 |
± 1800 |
|
2. |
G I P A H |
± 1800 |
± 1800 |
|
3. |
IBRAHIM |
± 1900 |
SEBELUM MERDEKA |
|
4. |
A M I R |
SEBELUM KEMERDEKAAN |
1945 |
|
5. |
GAPUR |
1945 |
1946 |
|
6. |
IMAM HANAFI |
1946 |
1948 |
|
7. |
KEMIS SUMOREJO |
1948 |
1958 |
|
8. |
AMARI |
1958 |
1965 |
|
9. |
MUKMIN |
1965 |
1975 |
|
10. |
ABDUL ADIM |
1975 |
1977 |
|
11. |
H. KHUZAINI |
1977 |
1999 |
|
12. |
MASHURI |
1999 |
2007 |
|
13. |
H. KASMADI |
2007 |
2025 |